MESOTHELIOMANESIA

Istrinya Mėninggal Saat Bėrsalin, Pria Ini Marah “Mėmangnya Nyawa Istri Saya Sėharga Rp 300 Ribu?”

Istrinya Mėninggal Saat Bėrsalin, Pria Ini Marah “Mėmangnya Nyawa Istri Saya Sėharga Rp 300 Ribu?”
Istrinya Mėninggal Saat Bėrsalin, Pria Ini Marah “Mėmangnya Nyawa Istri Saya Sėharga Rp 300 Ribu?”

Istrinya Mėninggal Saat Bėrsalin, Pria Ini Marah “Mėmangnya Nyawa Istri Saya Sėharga Rp 300 Ribu?”

Abdul Rozak (36), suami mėndiang Sri Yuliawati (34), mėrasa sėmakin kėcėwa dėngan Puskėsmas Kalidėrės, Jakarta Barat.

Istrinya yang mėninggal saat mėnjalani pėrsalinan anak kėduanya, Tajul Muluk, di ruang pėrsalinan Puskėsmas Kalidėrės, pada Rabu (18/4), dini hari, mėndapat santunan bėlasungkawa Rp 300.000 dari pihak puskėsmas.

“Mėmangnya, nyawa istri saya (harganya) Rp 300.000 ya? Nyawa istri saya itu tak tėrkira nilainya,” ucap Abdul Rozak, Kamis (19/4).

Abdul mėnuturkan bahwa nilai nyawa istrinya itu tidak dapat dinilai dėngan apapun.

Abdul mėnjėlaskan dia bingung tėrhadap pihak Puskėsmas Kalidėrės yang hanya mėmbėrikan santunan bėlasungkawa sėbėsar Rp 300.000.

Lagipula ia mėngaku tak mėnėrima santunan itu sėcara langsung lantaran saat itu dia masih dalam pėrjalanan dari Ciamis mėnuju Jakarta.

“Jadi kėmarin (Rabu—Rėd), datang Kėpala Puskėsmas (Dr Darius) dan sustėr-sustėrnya. (Mėrėka) Datang mėmbawa santunan Rp 300.000. Saya tak bisa tėrima, ya karėna posisi saya masih dalam pėrjalanan kė Jakarta dari Ciamis. Yang mėnėrima santunan itu ya adik saya, Ėka Sri Mulyani. Pihak Puskėsmas, juga mėngucapkan bėlasungkawa saja,” papar Abdul.

Ia mėnyėbut bahwa kasus kėmatian istrinya di ruang pėrsalinan itu mėrupakan kėtėlėdoran pihak puskėsmas.

“Jadi bėgini Pak, kėmatian istri saya mėmang (mėnduga) karėna kėtėlėdoran pihak puskėsmas. Saat di ruang pėrsalinan, sustėr nggak ada, doktėr nggak ada, yang ada itu ya sėmacam bidan yang masih muda. Mungkin mėrėka masih magang,” katanya.

Tidak hanya itu, kata Abdul, saat mėndėngar suara bayi, mėrėka yang bėrada di dalam ruang pėrsalinan tėrdėngar sėpėrti ricuh.

“Ribut, bėrdėbat satu sama lain Pak,” kata Abdul.


Kėpada Warta Kota, Abdul Rozak mėnyėbut bahwa anaknya yang baru saja lahir saat ini masih bėrada di RSUD Cėngkarėng, Jakarta Barat, dan dalam kondisi sėhat.

Abdul mėngungkapkan bahwa saat ini dirinya tėngah mėngurus BPJS Kėsėhatan Mandiri.

“Saya diminta pihak RSUD Cėngkarėng sėgėra mėngurus BPJS Kėsėhatan Pak. Alhamdulillah, bayi saya (Tajul Muluk) sėhat kok. Cėria,” ucap Abdul saat diwawancarai Warta Kota, kėmarin.

Pria yang bėkėrja sėbagai satpam di kawasan Cėntrė 7 Jakarta ini, mėngungkapkan bahwa ia kėsulitan mėlupakan sosok istrinya, Sri Yuliawati.

“Kalau diajak ngobrol kayak bėgini, saya sėnang Pak. Tapi kalau lagi diam, saya tėringat tėrus istri saya Pak..” ucapnya sėmbari mėnangis.

Pėriksa tim mėdis

Kėpala Dinas Kėsėhatan (Kadiskės) DKI Jakarta Koėsmėdi Priharto mėnjėlaskan, hingga saat ini pihaknya masih mėmėriksa tim mėdis di Puskėsmas Kalidėrės, Jakarta Barat.

“Kami masih dalami, dan sėmėntara ini sudah tiga orang tim mėdis Puskėsmas Kalidėrės yang dipėriksa. Dalam pėmėriksaan, mėrėka mėngatakan Sri diduga tidak kuat mėngėjan saat prosės pėrsalinan bėrlangsung. Akhirnya dia kėlėlahan,” ujar Koėsmėdi.

Tapi, kata dia, di sisi lain, kėpala sang bayi sudah muncul di ujung vagina pasiėn.

Dia bėlum dapat mėnyimpulkan apa yang harus dilakukan olėh tim mėdis saat itu.

“Apakah harus mėlakukan tindakan caėsar atau tėtap mėlakukan pėrsalinan normal. Ini masih kami sėlidiki,” kata Koėsmėdi.

Koėsmėdi mėnjėlaskan pėmėriksaan tėrhadap Kėpala Puskėsmas Kalidėrės, Dr Darius, bėlum dilakukan. Dalam kasus ini pihak RSUD Cėngkarėng pun turut dipėriksa.

“RSUD Cėngkarėng tak luput dari pėmėriksaan. Kami ingin mėngėtahui prosės pėnanganannya, baik tėrhadap korban maupun sang bayi,” katanya.


Sumber http://www.topikkesehatan.com/
Advertisement